Lembaga Kebudayaan
Universitas Muhammadiyah Malang
Lembaga Kebudayaan
Universitas Muhammadiyah Malang

Artikel

Mendayagunakan Metode Dakwah HMJ di Era Horizontal

(sebuah model dakwah kultural lewat media sosial)

Oleh: Kang Yoto-(Suyoto)

Bupati Bojonegoro

         Ajakan kepada setiap muslim untuk melakukan dakwah meskipun satu ayat, dalam era komunikasi horizontal menemukan relevansinya yang sangat kuat. Era horizontal ditandai dengan pola komunikasi yang tidak lagi top dawn atau button up. Hal ini dimungkinkan bersamaan dengan lahirnya warga dunia yang tidak lagi dibatasi negara atau kewarganegaraan (nitizen). Lewat jejaring sosial seperti face book, twitter, Google+, my space, kaskus, Yahoo messanger, linkined, wechat, WA, youtube, kaskus, dan media warga lainnya, setiap manusia dimungkinkan membangun atau menjadi anggota kelompok sosial yang tidak lagi dibatasi wilayah. Pola hubungan sosialnya  menjadi sangat egaliter, cair dan jauh dari watak  kaku. Dalam struktur sosial seperti ini tidak ditemukan strata sosial: elit dan alit, pusat atau pinggiran. Semua elit sekaligus alit, semua pusat sekaligus pinggiran. Semua bisa menjadi pemberi sekaligus penerima.

        Teknologi informasi telah mendesakkan pola komunikasi baru yang benar benar demokratis, cepat, murah di hampir semua aspek kehidupan. Dampaknya pun sangat fenomenal. Dalam ranah politik pola komunikasi horizontal ini terbukti efektif menggerakkan demokrasi di Timur Tengah, dan peningkatan layanan publik di negara negara yang demokrasinya sedang subur bersemi, seperti di negeri kita. Bayangkan lewat sms seorang guru yang merasa haknya terabaikan, bisa langsung masuk ke sistem LAPOR milik UKP4 Presiden. Seorang keluarga pasien di tengah malam, yang terlambat mendapatkan layanan rumah sakit bisa langsung berkirim protes kepada Bupati, melampaui Direktur rumah sakit itu sendiri.

      Di era seperti ini, informasi apa saja, termasuk misalnya yang tidak dikehendaki para penguasa dalam waktu sekejab dapat beredar luas. Bahkan media masa seperti koran, TV atau radiopun tidak dapat mendekte publik. Bila setiap orang menjadi produsen pesan dan dapat menyampaikan pesan apa saja kepada siapa saja, maka ada dua kemungkinan: setiap kita bisa belajar apa saja dari setiap orang atau mengabaikannya. Atau setiap kita dapat mendapatkan informasi atau pesan, yang benar atau yang salah, yang positif atau yang negatif. Tidak jarang para pengguna jejaring sosial memulai keterlibatannya dengan sekedar iseng, selfish,  seperti para brikker pemula di awal tahun 80an. Tidak ada yang diproduksi kecuali sekedar menghabiskan waktu. Karena itulah ajakan agar setiap muslim menjadi dai, atau mendakwahkan apa yang diketahui walaupun satu ayat, mengandung pesan agar setiap muslim terlibat dalam komunitas jejaring sosial dan bertanggung jawab atas isi pesan atau informasi yang dikeluarkannya. Lewat pesan yang bertanggungjawab tersebut maka akan terbentuk komunitas belajar (social leaner) yang produktif. Apakah kita akan menjadi bagian produktif dari kelompok sosial baru seperti ini?

       Bila ya, maka bagaimana kita dapat menggunakan motode dakwah yang dikenalkan Allah,  bilhikmah, walmauidhoh al hasanah, dan jidaal bil ahsan. Seperti dalam ayat yang sangat populer berikut:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah (bilhikmah) dan pelajaran yang baik (al mauidhah al hasanah) dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (jidaal bil ahsan). Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” annahl ayat 125.

Mengefektifkan Metode HMJ

       Metode itu alat, ibarat senjata ia menjadi efektif bila jelas dan tepat: isi, sasaran serta proses yang diinginkan. Begitu juga dengan penggunaan Metode Hikmah, Mauidhoh dan Jidal (HMJ). Untuk itulah, maka perlu adanya identifikasi yang mampu mensingkronisasikan antara media, partisipan dan proses dakwah. Selanjutnya harus jelas dan tepat sasaran dakwahnya, antara personal atau public. Kedua, harus tepat pilihan prosesnya, apakah status quo atau transformatif.

      Dari istilah sabilillah atau sabiili robbika, untuk membedakan dengan sabiilit thoghut (annisak 74 sd 79) dapat dikembangkan sasaran dakwah. Bila sabilillah atau jalan Allah adalah jalan kehidupan publik yang adil, sejahtera dan berkelanjutan, maka diperlukan upaya mewujudkannya sebagai keinginan bersama. Keinginan berdakwah dan keinginan aksi amal sholehnya, surat al baqorah ayat 195 dan at taubah ayat 60 terjemahan sebagai berikut :

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah (fii sabiilillah), dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah (fii sabiilillah) dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

      Dalam kerangka menjadikan sabilillah sebagai target capaian dakwah maka gerakan dakwah mencakup dua sasaran:

        pertama, sasaran personal. Yaitu  pembangunan pribadi unggul, yang prosesnya mentransformasi dari syirik ke tauhid, dari ghoiru sholeh menjadi sholeh, dari kurang kompeten menjadi kompeten. Dari tidak produktif atau godal gadul menjadi produktif. Dari orang yang berkepribadilan lemah menjadi kuat berkarakter akhlaq terpuji (akhlaqul karimah). Dari orang yang biasa biasa menjadi orang yang selalu berniat dan berkeinginan positif, berpikiran terbuka atas semua kemungkinan yang lebih baik, dan selalu bersedia bersama sama saling menciptakan jembatan menuju masa depan yang lebih baik.
Tipikal transformasi pribadi unggul tersebut telah dilukiskan oleh Allah sebagimana dalam al Quran, QS Ibrahim ayat 24-27. Allah memberikan perumpamaan manusia muslim yang kokoh dan produktif tersebut laksana pohon yang baik. Dan begitu pula sebaliknya.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik, seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

Dan perumpamaan kalimat yang buruk, seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun.

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.”

Dari sisi inilah jejaring sosial memberi peluang produktiftas dakwah, yang sangat efektif dalam rangka bersama sama belajar menjadi  insan  produktif. Semua proses itu bila dilihat dalam perspektif dakwah dapat disederhanakan:

Aspek ISI dakwah: mencakup prinsip dan nilai yang perlu diyakini dan dijadikan pedoman kehidupan personal, domestik dan publik;  Mimpi masa depan yang lebih baik (akhirat). Berbagai pemikiran dan pengalaman untuk membuat model atau proyek uswah hasanah yang menjadi jembatan masa kini dengan masa depan yang diimpikan bersama. Kesadaran tentang keberlanjutan semua proses upaya perbaikan harus menjadi keyakinan setiap muslim. Bahwa akherat atau hari esuk harus lebih baik dari pada dunia atau hari ini.

Dalam rangka mewujudkan sasaran personal ini maka metode HMJ dapat didayagunakan dengan skema berikut.  metode hikmah digunakan  untuk pencerahan hati, pikiran dan keinginan. Sedangkan Metode Mauizoh, untuk menerangi dan menyinari (tanwiirul quluub) benih keyakinan yang sudah ada.Metode Jidal bil ahsan, untuk membangun proses belajar bersama dalam mengembangkan keinginan, pikiran, hati dan perbuatan positif. Posisi partisipan yang horizontal, dengan  hati, pikiran dan keinginan yang terbuka, menjadikan  semua informasi dan jidal akan menciptakan proses saling belajar, saling memberi (co creating) yang produktif (bil ahsan). Jauh dari olok olok, saling menghakimi dan mengunci posisi. Hasilnya kompetensi dan kerpribadian kita masing masing diharapkan akan tumbuh subur produktif. Walhasil berbagai gagasan akan diperoleh dalam rangka membangun masa depan yang lebih baik.

       Kedua, membangun publik. Seperti diketahui yang disebut sabilillah itu publik, lawan dari personal dan orientasi komunal. Dalam Islam keberadaan Tuhan atau Wajah Tuhan kerap digambarkan: di saat kita sendiri, Tuhan berada  dalam nurani kita. Bila dihadapkan antara pribadi dan keluarga, Tuhan berada dalam kasih sayang, cinta kasih, dalam diri kita kepada keluarga. Sedangkan manakala dihadapkan antara pribadi, keluarga dan publik, maka  wajah Tuhan ada di publik (lihat misalnya, surat annisak ayat 74 dan surat arrum ayat 38 dan 39)

Apabila demikian, maka  pembangunan publik yang baik ditempatkan menjadi sasaran dakwah besar dan utama. Yaitu publik yang adil, produktif, mandiri, unggul dan berkelanjutan. Ada banyak istilah yang digunakan untuk menggambarkan publik yang baik. Diantaranya: qoryah thoyyobah, baldah toyyibah, daarussalam, dlsb.

Untuk melaksanakan dakwah dalam sasaran level publik ini maka ISI atau TOPIK dakwahnyapun berlevel publik. Yaitu mencakup semua problem publik. Misalnya: apa saja yang membuat publik miskin, tidak mampu memproduksi apa yang diperlukan, mengapa publik tidak mampu mengelola alam yang mendukung kualitas dan produktifitas hidupnya, mengapa terdapat struktur sosial yang timpang, bagaimana mengelola kebijakan publik yang efektif, bagaimana membangun modal sosial, bagaimana menguatkan moral publik, bagaimana mengelimir penyakit sosial dan seterusnya.

       Bagaimana pedayagunaan metode dakwah HMJ di sasaran publik? Dalam konteks sekarang, pembentukan masyarakat unggul seperti di muka memerlukan pencerahan moralitas, etika dan pemikiran publik. Inilah yang harus didakwahkan dengan metode hikmah. Tepatnya, setiap kita terlibat bersama sama saling mendakwahkan kearifan dan nilai nilai utama publik.
Mengubah publik memerlukan keterlibatan semua pihak, tidak hanya pencerahan tapi juga suntikan energi yang terus menerus menginspirasi. Untuk inilah metode mauidhoh dapat digunakan. Sedangkan kehausan dan kegairahan menelurkan berbagai gagasan dan gagasan penguatan proyek uswah hasanah dalam semua lini kehidupan dapat dipenuhi dengan saling bertukar pemikiran dan argumen yang baik. untuk inilah Metode Jidal bil ahsan dapat digunakan!

       Bisa dibayangkan betapa indah, dinamis dan produktifnya bangunan sosial yang diisi dengan isi dan proses dakwah seperti dimuka. Namun harus dicatat bahwa   setiap gerakan, termasuk gerakan transformatif di era horizontal ini memerlukan komitmen pribadi, dan karena itulah siapapun yang berniat terlibat dalam proses ini maka agar lebih dahulu mengibarkan janji pribadi. Setidak tidaknya  menyangkut berikut ini:

  1. Komitmen Menghargai Proses, yang terdiri dari: tilawah (bersedia terbuka membaca semua ayat Allah, qouliyyah, kauniyyah- dan ijmaiyyah); tazkiyah, menyucikan  dari semua niat negatif, membuka hati untuk semua kemungkinan positif dari luar dirinya.  Perhatikan terjemahan ayat berikut “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”(QS al jumuah:2)

  2. Komitmen pada Keberlanjutan. Mengingat tidak ada sesuatu yang sekali jadi, maka diperlukan komitmen keberlanjutan. Kita menemukan bagaimana berada dalam sabilillah itu berarti membenarkan dan berjuang mewujudkan masa depan yang baik, akhirat yang baik.  Menjadi pribadi dan mengajak pribadi dan publik yang memikirkan keberlanjutan, meraih masa depan yang lebih baik itulah komitmen setiap dai.

  3. Komitmen melibatkan diri sepenuhnya  pada Gerakan Transformasi, lewat penataan diri: menata nawaitu agar sholeh, menata keinginan, menata hati, menata pikiran dan menatap perbuatan untuk membangun kehidupan dan masa depan yang lebih baik. Menempatkan keinginan positif lillah ta’ala sebagai basis perbuatan, untuk publik yang diridloi Allah, itulah janji transformasi yang akan terus dikawal.              

       Mengapa diperlukan komitmen seperti itu? Karena yang didakwahkan itu adalah kebaikan dan metode dakwah yang digunakanpun baik : hikmah, mauidhoh hasanah, dan jidal bil ahsan! Bagaimana mungkin sebuah kebaikan, alat yang baik dibawakan oleh pribadi yang tidak baik. Kebaikan hanya bisa dihasilkan oleh cara yang baik dan pribadi yang baik pula.

Wallahu a’lam

( Draf awal tulisan ini saya tulis di Masjidil Haram, 3 februari 2013, dan saya sempurnakan untuk keperluan lokakarya dakwah kultural Lembaga Kebudayaan Muhammadiyah, di Universitas Muhammadiyah Malang, D dan 6 Juni 2015)

 

Workhsop Cipta Lagu Anak Yang Edukatif Dan Islami

Diselenggarakan oleh : Lembaga kebudayaan UMM

            Revolusi Mental Dimulai dari Lagu Anak, Sigit Baskara, pendiri Bumi Jogja Studio sekaligus pencipta lagu “Fatamorgana” mengkritisi lagu anak yang selama ini terbiasa dinyanyikan oleh orang tua untuk buah hati mereka, dari sudut pandang lain. Lagu pertama yang paling krusial adalah nina bobok, lirik “ kalo tidak bobok digigit nyamuk “ dinilai sarat akan ancaman yang tidak baik dalam tumbuh kembang anak, mengajarkan anak dengan mental premanisme.

Tidak hanya lagu Nina Bobok, kurang lebih 18 lagu anak – anak yang sudah menjadi budaya bagi orang tua dan pendidik, padahal mengandung unsur yang  lain yang mengancam mentalisasi anak. Menurut pria yang juga menjadi produser dan composer musik anak – anak semenjak 2014 setiap pencipta lagu dan pendidik untuk anak – anak harus berhati – hati untuk memilih lagu yang akan diajarkan kepada anak karena mereka juga harus mendapatkan bagian di dunia music yang ada di Indonesia Karena di jaman sekarang ini hampir semua anak – anak menghafal lagu dewasa yang belum seharusnya.

Kegiatan dimulai dari jam 09.00 – 15.00 pada tanggal 9 November 2015 yang diikuti guru – guru juga diminta untuk dapat menciptakan lagu dengan menggunakan kalimat yang edukatif , seperti cacing yang menjijikan bagaimana caranya kita ambil sisi positifnya agar tidak menjijikan, misalnya hanya satu bait saja sudah merangkum pokok – pokok  sasaran seperti “ satu – satu dan lihat kebunku “.

Sigit juga memberi tugas kepada guru – guru yang dibagi menjadi bebrapa kelompok, untuk membuat lagu dengan nada dan lirik yang original ciptaan sendiri hasil dari tema, yang telah  mereka tentukan, bukan hanya merubah lirik dan nada yang telah ada. Tidak sedikit dari guru TK baik Paud yang tampil dengan percaya diri diiringi oleh alunan keyboard dari pak Sigit.

Lembaga Kebudayaan UMM adalah unsur pembantu pimpinan UMM dalam menjalankan program progam pendidikan, bahkan UMM adalah salah satu Universitas di dunia yang memiliki Lembaga Kebudayaan. Kepala LK UMM Dr. Tri Sulistyaningsih M.Si mengatakan bahwa kegiatan ini adalah bentuk dedikasi LK terhadap kebudayaan dan pendidikan yang saat ini telah berkembang. Anak usia dini dan Tk adalah masa Golden Age, yang dapat dimanfaat untuk memberikan pembelajaran attitude, serta budaya yang baik untuk bertutur dan bertingkah laku. Pendidikan pada masa inilah yang akan mereka terapkan nanti ketika bertumbuh dewasa.

Ketua pelaksana, Dr. Eka Rini Saraswati, M.Pd, mengatakan, panitia mengadakan acara tersebut karena khawatir dengan masa depan anak – anak yang sedari kecil sudah mendengarkan lagu yang jauh dari unsur edukatif dan islami. Banyak keseruan yang terjadi pada saat acara, sembari menunggu waktu banyak peserta mayoritas adalah guru SD dan Tk se Jawa Timur, maju untuk menyanyikan lagu ciptaan masing – masing
 

KAJIAN MULTIDISIPLINER

MODEL PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MENCETAK GENERASI UNGGUL

            Pendekatan multidisipliner adalah pendekatan dalam pemecahan suatu masalah dengan menggunakan sudut pandang berbagai disiplin ilmu. Hal tersebut dapat dilakukan secara intensif melalui diskusi, seminar, lokakarya, dan penelitian. Oleh karena itu, Lembaga Kebudayaan Universitas Muhammadiyah Malang, sebagai salah satu lembaga yang mengkaji segala bentuk permasalahan dan fenomena budaya, menyelenggarakan kajian multidisipliner dengan tema “model pengembangan pendidikan untuk mencetak generasi unggul”. Kajian tersebut diselenggarakan pada 11 November 2015 di ruang sidang senat umm dengan pemateri Dr. Nurul Zuhriah, M.Si. dan Dra. Tri Dayakisni, M.Si.

Dalam penjelasannya, bu Tri menjelaskan bahwa karakter adalah perilaku seseorang yang dilandasi dengan pengetahuan tentang moral. Sedangkan, karakter unggul adalah karakter yang mencerminkan sifat positif seseorang. Dalam ajaran islam karakter unggul ialah seperti yang dicontohkan oleh rasul, yaitu shidiq, tabligh, fathonah, dan amanah. Beliau juga menjelaskan bahwa konsep pendidikan karakter menurut Thomas Licktone adalah pendidikan untuk penanaman nilai karakter atau membentuk kepribadian melalui pendidikan budi pekerti. Nilai-nilai yang harus dikembangkan dalam pendidikan karakter yaitu integritas, jujur dan dapat dipercaya, rasa hormat, sikap bertanggungjawab berlaku adil dan jujmur baik kepada diri sendiri maupun orang lain, kepedulian kewarganegaraan.

Sebagai salah satu pemateri, ibu Nurul memaparkan dasar-dasar pentingnya pendidikan karakter. Beberapa dasar tersebut diantaranya: pancasila (ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan), UUD 1945 pasal 31 ayat 3 (Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu  sistem pendidikan nasional yang meningkatkan  keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia  dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan  undang-undang). Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional pasal 3 (Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak  serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk  berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang  beriman dan bertakwa  kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”

 

MAKSIDAYA ( Malam Ekspresi Seni Dan Budaya )

Diselenggarakan oleh : Lembaga Kebudayaan UMM

            Universitas muhammadiyah Malang kembali menggelar Malam Ekspresi Dan Budaya (Maksidaya ). Acara kesenian yang diadakan oleh lembaga kebudayaan Jumat 16/10/2015 malam ini di heliped UMM , ini mengambil tema “ bangkitlah Pemuda Untuk Indonesia”. Beragam unit kegiatan mahasiswa (UKM ) UMM turut berpartisipasi dalam event rutinan jelang wisuda ini. Tujuan maksidaya ini yakin melestarikan, memperkenalkan, dan menyebarkan budaya dan nilai – nilainya sesuai dengan ajaran Islam.

1.      Perform mahsiswa Asing UMM menampilkan tarian Bedhayan

2.      Paduan suara mashasiswa gita surya UMM menunjukan penampilan terbaiknya sepulang dari Italia

3.      Pameran fotografi dari Focus UMM

4.      Penampilan band dari Ikabama yang menramaikan acara

Malam ekspresi seni dan budaya kali ini menjadi kegiatan wajib yang dilaksanakan Lembaga Kebudayaan (UMM), setiap periode wisuda, karena ini adalah salah satu bentuk rasa syukur  terlaksananya wisuda sehingga malamnya diadakan tasyakuran berbentuk  MAKSIDAYA. 

 

Kearifan Lokal Mendinamisasi Kehidupan Masyarakat Yang Berkeadaban
Oleh Syafiq A. Mughni


             Kearifan lokal (local wisdom) akhir-akhir ini menjadi subyek perbincangan yang semakin ramai di kalangan karena posisinya yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Ia merupakan perwujudan dari nilai lokal (local value) yang dipandang positif karena fungsinya dalam menjamin harmoni dan solidaritas sosial serta dipandang efektif dalam transformasi sosial. Kearifan sosial tentu saja harus digali dalam maknanya yang paling substansial dari tradisi lokal (local tradition) dan kemudian secara selektif ditarik ke dalam nilai-nilai keadaban. Dengan kata lain, tidak semua tradisi lokal mengandung nilai keadaban, dan karena itu tidak semua tradisi lokal menjadi sumber bagi kearifan lokal. Bagi kita, tradisi lokal harus terseleksi untuk ditransformasikan ke dalam kearifan lokal dan harus paralel dengan nilai-nilai ajaran Islam yang telah menjadi worldview (pandangan dunia) bagi setiap Muslim [baca selanjutnya...]


Pembelajaran Karawitan di Sekolah Dalam Rangka Pendidikan Karakter Bangsa
Oleh Kamiran, S.Sn

          Pembelajaran karawitan merupakan salah satu aktivitas pendidikan yang semakin jarang dilaksanakan di sekolah-sekolah umum. Budaya-budaya yang bersifat lokal kurang mendapat perhatian dari para pengelola dan penentu kebijakan pendidikan. Suatu ketika karawitan digunakan sebagai materi pembelajaran di sekolah karena telah terjadi pemahaman bahwa karawitan memiliki karakteristik yang penuh dengan nilai-nilai kepribadian bangsa sehingga bermanfaat bagi kehidupan. Terkait dengan pendidikan karakter bangsa maka makalah ini akan membicarakan tentang karakter apa yang dapat dibentuk melalui pembelajaran karawitan. Secara umum ada tiga hal yang dapat digunakan untuk mengetahui karakter bangsa yang dibentuk melalui pembelajaran karawitan yaitu aspek pengetahuan, praktek atau peragaan dan perasaan atau emosional. Ketiga aspek tersebut terdapat pada materi pembelajaran karawitan maupun pendidikan karakter bangsa, sehingga antara karawitan dan karakter bangsa merupakan dua materi pendidikan yang relevan. [baca selanjutnya...]


Memahami   Psikologi Masyarakat Indonesia melalui Pengkajian Folklor Nusantara sebagai Dasar Pemahaman Psikologi  Berbasis Budaya Indonesia (Pendekatan Multidisiplin Psikologi, Ilmu-Ilmu Sastra dan Antropologi) Oleh Dr. Arif Budi Wurianto, MSi


           Folklore secara umum didefinisikan sebagai bagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun temurun. Diantara kolektif dalam berbagai macam versi yang berbeda dan bersifat tradisional baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat bantu pengingat /mnemonik device (Danandjaja, 2002:2). [baca selanjutnya...]


Woman As Actress Of Tratidional Performing Arts And Gender Justice
By Dr. Arif Budi Wurianto, MSi

             Woman World Conference IV in Beijing 1995 resulted in Beijing Platform for Action that constitutes a foundation of action focusing on 12 critical points. Some points referred are Woman and Poverty, Violence to Woman, Woman and Economy, Woman in Authority and Decision Taking, and Rights for Woman. They have close relation with woman role in traditional art performance beside as a form of art intellectual and talent capacity, rights in art, and also traditional art performance as part of economy and expressive activities that is susceptible toward woman injustice and violence.[baca selanjutnya...]


Seni Ritual Sebagai Kontemplasi Aesthetic Vision (Ritual Arts di Lingkungan Masyarakat Tengger Jawa Timur)
Oleh Dr. Arif Budi Wurianto, MSi

                Sudah sejak lama, sejalan dengan sejarah peradaban manusia, kesenian sebagai aspek kebudayaan merupakan pranata yang hidup dalam masyarakat. Seni mengiringi pranata-pranata sosial yang lain dalam memenuhi kehidupan manusia dan kebudayaan pendukungnya. Seni yang dikembangkan masyarakat dapat digambarkan sebagai gambaran ungkapan ideologis, tata kelakuan dan budaya material masyarakat pendukung sebuah kebudayaan. Ukuran keindahan yang dipahami oleh anggota masyarakat bersifat relatif karena perbedaan ruang dan waktu, sehingga menjadi sebuah kekhasan dan kearifan lokal karena ciri local indigenious-nya.[baca selanjutnya...]

Shared: